-->

Contoh Skripsi PENGARUH PEMBERIAN REWARD TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IV MI AL HIKMAH PASIR MIJEN DEMAK TAHUN 20XXX/20XXXX

PENGARUH PEMBERIAN REWARD TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IV MI AL HIKMAH PASIR MIJEN DEMAK




Latar Belakang Masalah
Sebuah pembelajaran adalah suatu proses yang pelaksanaannya di lakukan pada setiap individu ataupun kelompok untuk merubah suatu sikap atau prilaku dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik lagi. Sedangkan proses belajar mengajar merupakan kegiatan pokok di dalam sebuah lembaga sekolah yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan keterampilan ataupun sikap. Melalui proses mengajar tersebut akan dicapai tujuan pendidikan tidak hanya dalam hal membentuk perubahan tingkah laku dalam diri siswa, akan tetapi juga meningkatkan pengetahuan yang ada dalam diri siswa terrsebut.

Akan tetapi pada realitasnya dalam proses belajar mengajar, guru seringkali mendapatkan kesulitan dalam pembelajaran. Misalnya: siswa merasa ngantuk, bosan ketika pembelajaran berlangsung karena tidak ada yang membuat siswa itu semangat dalam pembelajaran tersebut. Hal ini menyebabkan kurang aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran, apalagi pada pelajaran yang dianggapnya sulit, jadi diperlukan adanya sebuah solusi untuk mengatasi problem-problem tersebut.

 Seorang guru perlu mengembangkan pendekatan dan metode yang lebih bervariatif untuk mengatasi berbagai kesulitan siswa seperti rasa jenuh, bosan, adanya kemungkinan peserta didik kurang mendapat motivasi dari orang tua siswa dalam mendukung anaknya atau faktor lingkungan yang kurang mendukung. Untuk itu, guru harus mencari strategi atau inisiatif agar siswa dapat tertarik atau lebih antusias dalam proses belajara mengajar.

Teori motivasi yang dikemukakan oleh Salvin bahwa motivasi belajar adalah memberikan penghargaan kepada kelompok terhadap personal maupun kelompok yang mampu mengekspresikan ide, pernyataan serta pendapat. Pemberian Perhatian. Pemberian perhatian yang cukup terhadap siswa dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan bentuk motivasi yang sederhana, karena banyak yang tidak memiliki motivasi belajar diakibatkan tidak dirasakannya adanya perhatian. Sebagaimana yang dijelaskan Dimyati dan Mudjiono (2002:42) prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perhatian dan motivasi pembelajaran yaitu perhatian merupakan peranan penting dalam kegiatan belajar.

Pemberian hadiah dan pujian merupakan reward atau penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak. Hal ini sangat diperlukan dalam hubungannya dengan minat dan penerapan disiplin pada anak. Reward atau penghargaan memiliki tiga fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku yang disetujui secara sosial. Fungsi yang pertama ialah memiliki nilai pendidikan. Yang kedua, pemberian reward harus menjadi motivasi bagi anak untuk mengulangi perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat. Melalui reward, anak justru akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku yang memang diharapkan oleh masyarakat. Fungsi yang terakhir ialah untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, anak akan mengasosiasikan reward dengan perilaku yang disetujui masyarakat.

Oleh karena itu, peneliti mencoba membuat siswa lebih agar aktif dan semangat didalam kegiatan pembelajaran, dan meningkatkan semangat belajar dalam diri siswa. Dengan pemberian reward kepada siswa, diharapkan dapat meningkatkan motivasi mereka untuk lebih giat belajar dalam proses pembelajaran di kelas.

B.            Rumusan Masalah

Dari latar belakang penelitian di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian  yaitu “Seberapa besar pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas IV MI AL HIKMAH PASIR MIJEN DEMAK?”

C.           Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini pada umumnya adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas IV MI AL HIKMAH PASIR MIJEN DEMAK. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menjelaskan “pengaruh pemberian reward terhadap motivasi belajar siswa kelas IV MI AL HIKMAH PASIR MIJEN DEMAK”.

D.           Manfaat Penelitian

1.             Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian ke arah pengembangan kompetensi mengajar guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan terutama yang berhubungan dengan motivasi siswa dalam proses berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas. Selain itu, penelitian ini bisa menjadikan bahan masukan untuk kepentingan pengembangan ilmu bagi pihak-pihak yang berkepentingan guna menjadikan penelitian yang lebih lanjut.

2.    Manfaat Praktis

Kegunaan penelitian secara praktis diharapkan dapat memiliki kegunaan sebagai berikut.

a.    Manfaat bagi guru, dapat memberikan informasi bagi para guru agar meningkatkan kualifikasinya sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme.

b.    Manfaat bagi siswa, dapat memberikan motivasi bagi siswa melalui pemberian reward dapat mempengaruhi semangat dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.

c.    Manfaat bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai temuan awal untuk melakukan penelitian lanjut tentang model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

E.            Hipotesis Penelitian

Berkenaan dengan masalah yang diteliti, maka dirumuskan hipotesis penelitiannya adalah “Pemberian reward berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas IV MI AL HIKMAH PASIR MIJEN DEMAK”.

F. Kajian Pustaka

1.    Reward
a.    Konsep Dasar Reward

1)   Definisi Reward
Reward (ganjaran), merupakan suatu teori penguatan positif yang bersumber dari teori behavioristik. Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat darinya adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar adalah merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi antara stimulus dan respon.

Reward berasal dari bahasa Inggris yang berarti penghargaan atau hadiah.[1] Sedangkan reward menurut istilah ada beberapa hal, diantaranya adalah:

Menurut Ngalim Purnomo reward adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaanya mendapat penghargaan[2].

Menurut Amir Daien indrakusuma reward adalah penilaian yang bersifat posistif terhadap belajar siswa.[3]

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa reward adalah suatu segala sesuatu berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa karena hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji.

Peranan reward dalam proses pengajaran cukup penting terutama sebagai faktor eksternal dalam mempengaruhi dan mengarahkan perilaku siswa. Hal ini di dasarkan atas berbagai pertimbangan logis, diantaranya reward ini dapat menimbulkan motivasi belajar siswa dan dapat mempengaruhi perilaku positif dalam kehiduan siswa.

Reward merupakan alat pendidikan yang mudah dilaksanakan dan sangat menyenangkan bagi para siswa. Untuk itu, Reward dalam suatu proses pendidikan sangat dibutuhkan kebenarannya demi meningkatkan motivasi belajar siswa.

Maksud dari pendidik memberikan Reward kepada siswa adalah supaya siswa menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau mempertinggi prestasi yang telah dicapainya, dengan kata lain siswa menjadi lebih keras kemauannya untuk belajar lebih baik.

2)        Tujuan Reward

Mengenai masalah reward, perlu peneliti bahas tentang tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward. Hal ini dimaksudkan, agar dalam berbuat sesuatu bukan karena perbuatan semata-mata; namun ada sesuatu yang harus dicapai dengan perbuatannya, karena dengan adanya tujuan amak akan memberi arah dalam melangkah.

Tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward adalah untuk lebih mengembangkan dan mengoptimalkan motivasi yang bersifat intrinsik dari motivasi ekstrinsik, dalam artian siswa melakukan suatu perbuatan, maka perbuatan itu timbul dari kesadaran siswa itu sendiri.

Jadi, maksud dari reward itu yang terpenting bukanlah hasil yang dicapai seorang siswa, tetapi dengan hasil yang dicapai siswa, guru bertujuam membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan lebih keras pada siswa.

Seperti halanya telah disinggung diatas, bahwa Reward disamping merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan, Reward juga dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi siswa belajar lebih baik lagi.



2.             Motivasi Belajar

a.    Konsep Dasar Motivasi Belajar

1)   Definisi Motivasi belajar

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seorang yang di tandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. [4]

Wasty Soemanto berpendapat bahwa motivasi adalah suatu perubahan tenaga yang di tandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan. [5]

Tabrani Rusyan berpendapat, bahwa motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. [6]       

Heinz Kock memberikan pengertian motivasi adalah mengembangkan keinginan untuk melakukan sesuatu. [7]

Dalam uraian diatas, motivasi dapat didefinsikan sebagai suatu pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang mengarahkan ke tingkah yang positif.  

Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan menafsirkan tentang belajar. Seringkali pula perumusan dan penafsiran tentang belajar itu berbeda-beda. Dalam uraian ini penulis akan mengutip belajar menurut pandangan behavioristik.

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.[8]

Motivasi belajar merupakan unsur yang penting dalam proses pembelajaran. Ada atau tidaknya motivasi belajar dalam diri siswa akan menentukan apakah siswa akan terlibat serta aktif dalam proses pembelajaran atau bersifat pasif tidak peduli. Kedua kondisi ini tentu saja berakibat yang sangat berbeda dalam proses pembelajaran dan hasilnya.

Dalam ruang kelas guru dihadapkan dengan berbagai macam siswa. Guru terkadang mengalami kesulitan untuk dapat memotivasi siswanya. Hal ini disebabkan oleh banyak hal: misalnya keterbatasan waktu, kebutuhan emosional setiap siswa yang perlu diperhatikan guru, tuntutan hasil yang belajar yang sesuai, dan lain-lain. Berbagai kondisi tersebut menjadi sumber stres bagi para guru sehingga tidak bisa melaksanakan fungsinya sebagai motivator.

Komponen utama motivasi ada tiga yaitu kebutuhan, dorongan, dan tujuan. Kebutuhan muncul apabila terjadi ketidakseimbangan antara yang dimiliki dengan yang diharapan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada harapan atau pencapaian tujuan. Tujuan dalam hal ini adalah sebagai pemberi arahan pada perilaku manusia di dalamnya perilaku membaca pemahaman.

Motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Fungsi motivasi meliputi:

a.    Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan.

b.    Motivasi berfungsi sebagai pengarah.

c.    Motivasi berfungsi sebagai penggerak.

          Dalam kegiatan pembelajaran, menurut Oemar Hamalik, motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:[9]

a.    Motivasi menentukan tingkat keberhasilan perbuatan belajar murid

b.    Pembelajaran yang bermotivasi pada hakekatnya adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada murid.

c.    Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinasi guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa

d.   Berhasil atau gagalnya dalam menggunakan motivasi dalam pembelajaran erat pertaliannya dengan pengaturan disiplin kelas.

e.    Penggunaan motivasi dalam mengajar buku saja melengkapi prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakuan sesuatu sehingga dapat mencapai tujuan.

2)             Jenis-jenis Motivasi

Berdasarkan jenis motivasi, motivasi dikelompokan menjadi dua macam, yaitu;

a)             Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tercaup didalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa. Motivasi ini sering juga disebut motivasi murni. Motivasi yang sebenarnya adalah motivasi yang timbul dalam diri siswa sendiri.

Motivasi Intrinsik ini adalah motivasi yang hidup dalam diri siswa dan berguna bagi motivasi belajar yang fungsional.

Dalam hal ini, reward tidak diperlukan karena tida akan mempunyai dampak bagi siswa, arena dalam hal ini motivasi tumbuh dalam diri siswa itu sendiri, tanpa adanya faktor eksternal. Motivasi intrinsik adalah bersifat riil dan inilah motivasi yang sesungguhnya yaitu dari kemauan siswa itu sendiri.

b)            Motivasi Ekstrinsik

Motivasi Ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijasah, hadiah, dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa atau sesuai dengan kebutuhan siswa. Lagi pula sering sekali siswa belum mengetahui untuk apa ia belajar hal-hal yang diberikan di sekolah. Karena itu motivasi terhadap pelajaran itu perlu dibangkitkan oleh para guru sehingga siswa mau dan ingin belajar. Dalam hal ini guru dapat menentukan sendiri cara bagaimana untuk memotivasi siswa supaya aktif dalam pembelajaran di kelas.

3)             Teori Motivasi

a.             Teori Hedonisme

Hedonisme adalah bahasa yunani yang artinya ”kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan”. Hedonisme adalah susatu aliran didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang pertama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi.[10]

Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang kan cenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, atau mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya, misalnya: siswa di suatu kelas merasa gembira dan bertepuk tangan mendengar pengumuman dari kepala sekolah bahwa guru matematika mereka tidak dapat mengajar karena sakit, seorang pegawai segan bekerja dengan baik dan malas bekerja, tetapi menuntut gaji atau upah yang lebih tinggi, dan banyak lagi contoh yang lain, yang menunjukkan bahwa motivasi itu sangat diperlukan. Menurut teorisme diatas, para siswa dan pegawai tersebut pada contoh diatas harus diberi motivasi secara tepat agar tidak malas dan mau bekerja dengan baik, dengan memenuhi kesenangannya.

b.             Teori Daya Pendorong

Teori ini merupakan perpaduan antara teori naluri dengan teori reaksi yang dipelajari. Daya pendorong adalahsemacam naluri, tetapi haya satu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya, suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain.semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Namun, cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong pendorong berlain-lainan. Bagi tiap individu menurut menurut latar belakang kebudayaan masing-masing. Oleh karena menurut teori ini, bila seorang pemimpin ataupun pendidik ingin memotivasi peserta didiknya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong, yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya.

Memotivasi anak didikyang sejak kecil dibesarkan didaerah gunung misalnya, kemungkinan besar akan berbeda dengan anak didik ayang dibesarkan di daerah kota meskipun masalah yang dihadapinya sama.

c.              Teori Kebutuhan

Teori kebutuhan merupakan teori yang seringkali digunakan dan dianut oleh orang karena mereka berpendapat bahwa pada hakekatnya manusia bertindak atau berbuat adalah untuk memenuhi kebutuhan, baik itu psikis atau fisik. Sebelum seorang pendidik atau pemimpin sebelum memberikan motivasi, ia harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dibutuhkan oleh orang yang akan diberi motivasi.

Teori kebutuhan yang paling terkenal adalah teori kebutuhan dari Maslow. Sebagai seorang pakar psikologi ia berpendapat bahwa kebutuhan pokok manusia ada lima tingkatan. Kebutuhan itu antara lain sebagai berikut:







a)              Kebutuhan yang bersifat fisiologis

Kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar, seperti cukup pangan, sandang, dan papan. Dalam kelas kebutuhan ini biasa kita jumpai; siswa yang tidak sempat makan pagi, siswa yang terganggu karena kelasnya panas, dan lain-lain. Hal ini perlu mendapat perhatian dari guru.

1)             Kebutuhan menjadi suatu kelompok

Kebutuhan ini meliputi rasa ingin dicintai, pribadi yang diakui kelompok, setia kawa, kerjasama, dan lai-lain. Di sekolah kita banyak menlihat seorang siswa yang sedang bermain dihalaman. Guru seharusnya bisa menjadi apa yang di inginkan siswanya. Jika ia membutuhkan teman jadilah teman hangat bagi para siswanya.

2)             Kebutuhan dihargai

Seorang mempunyai kebutuhan untuk diakui dan dihargai berdasarka kemampuan dan kualitas yang dimilinya. Pada dasarnya siswa ingin dihargai orang lain sebagai bukti dan kepercayaannya kepada dirinya sendiri sebagai orang yang berguna, kompeten, dan sebagainya.

3)             Kebutuhan aktualisasi diri

Ini adalah kebutuhan yang tertinggi. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan keinginan untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin. Perwujudannya terlihat dari keinginan untuk mempelajari hal-hal baru, menikmati keindahan lukisan atau seni, atau keinginan untuk memiliki hidup yang berkembang dengan seimbang dalam berbagai area kehidupan. Dalam konteks kelas, siswa berada kebutuhan yang berlainan. Siswa ada yang dari keluarga yang berkecukupan dan ada yang dari keluarga kekurangan. Hal inilah yang menyebabkan tingkat kebutuhan mereka berbeda-beda.

4)             Tujuan Motivasi Belajar

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seorang untuk timbul keinginan atau kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu[11]







[1] John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia. (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 482



[2] M. Ngalim Purwanto,  Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 182

[3] Menurut Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasiona, 1973), hlm. 159



[4]  Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung; Bumi Aksara, 2001), hlm. 158

[5] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara 1978), hlm. 199



[6] Tabrani Rusyan, dkk. Pendekatan dalam proses Belajar Mengajar. (Bandung: CV Remaja Rosdakarya, 1989), hlm. 95

[7] Heinz Kock, Saya Guru Yang Baik, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 69

[8] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 20



[9]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Bandung: Bumi Aksara, 2005), hlm. 161



[10] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 74



[11] Wahid Murni, “Cara Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Lapangan”, (Malang: UM Press, 2008), hlm. 41
A.        

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel